KUDA

0
Kuda (Equus caballus atau Equus ferus caballus) adalah salah satu dari sepuluh spesies modern mamalia dari genus Equus. Hewan ini telah lama merupakan salah satu hewan ternak yang penting secara ekonomis, dan telah memegang peranan penting dalam pengangkutan orang dan barang selama ribuan tahun.


Kuda dapat ditunggangi oleh manusia dengan menggunakan sadel dan dapat pula digunakan untuk menarik sesuatu, seperti kendaraan beroda, atau bajak. Walaupun peternakan kuda diperkirakan telah dimulai sejak tahun 4500 SM, bukti-bukti penggunaan kuda untuk keperluan manusia baru ditemukan terjadi sejak 2000 SM. Dalam bahasa Jawa disebut jaran, Bahasa Makassar disebut jarang.


Read more

KUDA ARAB

1
Read more

KUDA PONI

1
Kuda Poni adalah jenis kuda yang berukuran kecil. Tingginya dari tanah sampai ke punggung kurang dari 14 tangan (142 cm). Leluhur dari kuda peliharaan yang masih liar memiliki ukuran hanya sebesar ini tetapi setelah dijinakkan maka berkembang kuda yang kuat untuk diternakkan.


Hingga saat ini, masih banyak orang yang menggunakan kuda sebagai alat transportasi. Kuda banyak membantu tugas manusia. Kuda poni ini biasanya juga digunakan sebagai kuda tunggang di tempat-tempat rekreasi yang per-kitarannya seharga Rp. 20000. Hewan ini pemakan rumput, bila dalam keadaan terpaksa mereka dapat pula memakan daun dan tunas muda. Disamping itu kuda memiliki penglihatan dan pendengaran yang tajam.
Kuda termasuk mamalia berkuku ganjil. Kuda, keledai dan zebra memiliki kesamaan yang membedakannya hanyalah kulit saja.


Perbedaan pokok terletak pada besar dan bentuk telinga, semua kuda memiliki bulu surai yang tegak dan suatu garis gelap memanjang di punggung. Berkembangnya jenis kuda poni yang sedikit berbeda namun semuanya cenderung bersifat kuat dan mandiri, inilah yang merupakan ciri kuda poni sekarang.

Di inggris, kuda poni yang terkecil adalah jenis Shetland, yang berukuran sekitar 7 tangan. Jenis yang paling kuno adalah kuda poni Exmoor yang mirip dengan kuda yang biasanya digunakan oleh para penduduk Inggris sebelum zaman Romawi. Kuda poni yang biasanya di gunakan untuk kuda tunggang adalah jenis New Forest dan Welsh yang terkenal
Banyak orang yang berpikir bahwa mereka ingin memiliki kuda poni.


Akan tetapi, kuda poni ini sangat membutuhkan biaya dan perhatian yang besar untuk pemeliharaannya. Seekor kuda poni yang ditinggal sendirian di lapangan akan merasa tidak senang dan menjadi tidak sehat. Maka itu kuda poni harus di tempatkan di tempat yang lebih aman agar dapat bertahan hidup dengan sedikit makanan. Sumber : Oxford Ensiklopedi Pelajar, 2002
Read more

KUDA PONI MINAHASA

0
SEJARAH Minahasa erat kaitannya dengan kuda yang sampai saat ini menjadi cabang olahraga andalan. Sejak zaman dahulu, kehidupan masyarakat Minahasa tidak pernah lepas dari kuda. Sejak dahulu, kuda di Minahasa digunakan untuk membantu masyarakat dalam melakukan kerja seperti menarik gerobak.


Seperti halnya Provinsi Nusa Tenggara Timur yang mempunyai kuda asli lokal yang sering disebut kuda Sumba, Kabupaten Minahasa juga memiliki kuda asli lokal yang disebut kuda poni Minahasa. Jenis kuda tersebut telah ada sejak zaman dahulu, bahkan sebelum kehidupan masyarakat di Minahasa belum dimulai.

Ukuran kuda poni Minahasa tergolong kecil, karena biasanya hanya memiliki tinggi badan maksimal 1,18 meter. Zaman dahulu, kuda poni Minahasa tidak digunakan untuk pacuan, tapi hanya untuk membantu kegiatan masyarakat. Saat ini sudah tidak ada lagi kuda poni Minahasa yang memiliki darah murni, karena semua kuda di Minahasa telah mengalami persilangan dengan kuda jenis lain.

Sekitar tahun 1930-an, pada saat Belanda masih menjajah Indonesia, seorang penguasa Minahasa yang setara bupati saat ini membawa dua ekor kuda pejantan "Belgi" yang adalah kuda asli Belgia. Kedua kuda tersebut memiliki postur tubuh yang lebih besar dibanding kuda poni Minahasa.

Jemmy Mewengkan (54), seorang pelatih kuda pacu di Tompaso mengatakan cikal bakal kuda pacu di Minahasa berasal dari dua ekor kuda Belgi tersebut. Para peternak saat ini melakukan persilangan antara kuda Belgi dengan kuda lokal Minahasa. Persilangan tersebut menghasilkan keturunan yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil dari kuda Belgi, tapi lebih besar dari kuda poni Minahasa. Kedua kuda Belgi milik Belanda saat itu di pelihara pada sebuah kandang di Kecamatan Tompaso. Selanjutnya, sekitar tahun 1947, Bupati Minahasa, Lourens Saerang memasukkan satu ekor kuda pejantan dari jawa bernama Boy Bintang yang adalah keturunan Torobret Australia dengan kuda lokal Jawa.

Pada masa awal kemerdekaan Indonesia tersebut, kuda-kuda digunakan oleh orang-orang kaya serta memiliki jabatan dalam pemerintahan. Saat itu, kuda hasil persilangan kuda luar dengan kuda lokal Minahasa yang berukuran besar menjadi simbol kekayaan sebagian masyarakat. Sedangkan kuda poni Minahasa tetap melakukan tugasnya menarik gerobak. Memasuki tahun 1950-an, kuda-kuda yang sebelumnya hanya untuk ditunggangi mulai diarahkan untuk dijadikan kuda pacu.

Awalnya lintasan yang digunakan untuk berpacu adalah lintasan lurus berjarak 300 sampai 400 meter. Kuda-kuda yang bersaing dalam perlombaan tersebut adalah kuda hasil persilangan antara kuda Belgi dengan kuda poni Minahasa dan kuda hasil persilangan Torobret Australia dan kuda lokal Jawa. Jemmy menceritakan, sentra peternakan kuda di Minahasa berada di desa Pinabetengan, Talikuran, Liba, Tolok, Sendangan, dan Kamanga, yang semuanya berada di Kecamatan Tompaso. tribunmanado.co.id
Read more

KUDA MUSTANG

0
Tidak satu Mustang, atau kuda lain, ditemukan di belahan bumi barat ketika tanah itu baru ditemukan, namun evolusi kuda prasejarah memang telah dilacak ke Amerika, melalui berbagai penemuan fosil. Kuda-kuda liar yang umum di Amerika Utara dan Amerika Selatan datang dari pengusaha yang diperkenalkan oleh orang Spanyol, ketika orang-orang ini datang untuk mengklaim tanah itu dan menaklukkan penduduk asli. Jadi asal-usul Mustang dibawa oleh orang-orang Spanyol.


Orang-orang dari Spanyol datang untuk eksplorasi, untuk kristenisasi pribumi, untuk kolonisasi, dan mereka membawa kuda mereka. Setelah beberapa saat, kawanan mustang bertebaran di tanah yang luas, berlari bebas dan membentuk kelompok kuda ras baru. Kuda Spanyol dikenal sebagai jenis dengan berbagai karakteristik. Karakteristik yang paling menonjol adalah sifat tahan banting, karakteristik inilah yang memungkinkan untuk berkembang biak di alam dengan cepat . Kuda liar tidak banyak sampai dengan baik setelah India mulai menunggang dan terpasang dengan baik.


Namun sangat India ditambahkan ke lembu mustangs dan bertanggung jawab atas penampilan mereka di beberapa daerah. Kuda berkembang di benua baru dan kuda mustang terus-menerus meningkat populasinya, dibantu oleh gaya hidup dari banyak suku Indian, satu suku Indian mungkin mempunyai seratus kuda. Juga ketika penyakit epidemi melanda suatu suku, ribuan kuda lepas dan menjadi liar. Kuda melarikan diri tersebar lebih dari setengah benua. Para perintis dan kavaleri, Polisi dan Sheriff.


Semua percaya kuda mustang bagian dari sejarah, yang disebut jaman budaya kuda. Kuda mustang terdiri dari berbagai warna, misalnya: coyote Duns, smokies, blues, roans biru, abu- abu, berkulit putih-hitam, hitam mengkilap, coklat, roans merah, splotched appaloosas, krem palominos, dan nuansa warna seperti warna matahari terbenam.
Read more

KUDA BIMA

0
Kuda (Perang) Kuningan Tinggal Kenangan ...

Kuda Windu menjadi bagian sejarah yang tak terpisahkan dari sejarah Kabupaten Kuningan. Kuda perang ini menjadi ikon yang terlihat di setiap gapura pemerintahan hingga logo seragam. Namun, kuda perang ini kini tinggal cerita. Yang kini tersisa adalah kuda-kuda penarik delman. Menelusuri Kuningan, mencari jejak kuda perang Windu, bukan hal mudah.


Meski dalam data Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan disebutkan populasi kuda mencapai 605 ekor pada 2008, semua kuda itu adalah kuda delman yang tidak diternakkan di Kuningan.

Iking Sakri (51), salah seorang sesepuh kusir yang tinggal di Lebak Kardin, Kecamatan Kuningan, Kabupaten Kuningan, mengakui, kuda merupakan sarana transportasi utama di kota Kuningan sejak ia lahir. Ia sendiri sudah memulai menarik delman sejak tahun 1971.

"Zaman saya dulu, delman ada di mana-mana. Mungkin jumlahnya ribuan. Jalanan kota yang naik turun membuat delman menjadi alat transportasi yang paling mungkin saat itu," katanya, Jumat (24/4). Kuda di Kuningan selama ini hanya diperuntukkan sebagai penarik delman. Hanya sesekali kuda itu digunakan sebagai kuda pacuan. "Biasanya setiap tahun ada balapan kuda. Pesertanya, ya, kami-kami ini," kata Wawan, kusir kuda yang pernah memenangi lomba pacuan kuda di Kuningan.

Selain untuk pacuan, kuda pun masih digunakan dalam setiap penyelenggaraan saptonan. Saptonan merupakan adu ketangkasan menunggang kuda bagi para tumenggung atau pejabat kerajaan pada zaman dulu. Dalam permainan ini para pejabat itu menunggang kuda sambil menombak air di dalam ember yang digantung pada dua tiang bambu. Pemenangnya adalah yang bisa menjatuhkan air dalam ember dengan tombak. Hingga saat ini saptonan masih dilangsungkan setiap tahun, tetapi dilakukan oleh pejabat di kabupaten. Kuda yang digunakan biasanya adalah kuda sewaan dari para kusir," kata Iking.

Kuda Perang

Kuda Kuningan pada abad XV dikenal sebagai kuda perang. Tidak banyak buku sejarah yang menceritakan keberadaan kuda di Kuningan. Dr Edi Ekadjati (alm) dalam bukunya, Sejarah Kuningan: dari Prasejarah hingga Terbentuknya Kabupaten, menyebutkan, kuda peliharaan Dipati Ewangga, panglima pasukan di Kuningan, yakni Si Windu, merupakan kuda perang yang tangguh meski berbadan kecil.


Dalam dokumen riwayat singkat hari jadi kota Kuningan juga disebutkan, Windu ikut dalam perjalanan perang Adipati Kuningan guna bertempur untuk Kerajaan Cirebon menundukkan Galuh. Windu ikut pula berperang dan mendirikan pemerintahan Wiralodra di Indramayu. Bersama dengan Cirebon, pasukan Kuningan ini juga menggempur Sunda Kelapa dan turut mendirikan pemerintahan Jayakarta. Setelah itu, tidak ada lagi yang menuliskan tentang kuda Kuningan dan penerusnya.

Lia Priliawati, Kepala Seksi Produksi Bidang Peternakan Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Perikanan Kabupaten Kuningan, mengatakan, keberadaan kuda Kuningan secara genetis tidak pernah diteliti. Nursamsi, Kepala Monitoring dan Evaluasi Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Perikanan Kabupaten Kuningan, juga mengatakan, kuda Kuningan yang ikut berperang diperkirakan merupakan kuda peranakan dari Bima.

Pada zaman keadipatian, yakni abad XV, menurut dia, ada peternakan kuda di Ciniru.
"Kuda-kuda itu didatangkan dari Bima, dibawa dengan kapal melalui Pelabuhan Cirebon," katanya. Namun, keturunan dari kuda Bima yang menjadi tunggangan panglima perang Kuningan itu tak bisa dilacak. Kuda-kuda di Kuningan saat ini, menurut Lia, adalah kuda campuran.

Dilihat dari asalnya, kuda tersebut berasal dari berbagai kota. "Kuningan sendiri tidak mempunyai peternakan kuda. Jadi, kuda di sini hanya hasil dari jual beli," ujarnya.
Tak jarang para kusir pun tak tahu asal-usul genetis kuda miliknya. Rano (22), kusir delman, adalah salah satunya. Ia hanya tahu kuda putihnya masih muda karena gigi taringnya belum panjang. Kuda perang Kuningan kini memang hanya sebatas cerita, berganti dengan kuda delman yang berasal dari berbagai kota.
Read more
 
Copyright 2009 HORSE HERD
Design by BloggerThemes